Loading...

Sabtu, 05 November 2011

TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH


TEKNIK MENULIS (LAPORAN TEKNIK) KARYA ILMIAH



Pengertian Karya Ilmiah

Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Jika pun, tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, tujuannya adalah sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Disebut juga dengan penelitian lanjutan.

          Tradisi keilmuan menuntut para calon ilmuan (mahasiswa) bukan sekadar menjadi penerima ilmu. Akan tetapi sekaligus sebagai pemberi (penyumbang) ilmu. Dengan demikian, tugas kaum intelektual dan cendikiawan tidak hanya dapat membaca, tetapi juga harus dapat menulis tentang tulisan-tulisan ilmiah. Apalagi bagi seorang mahasiswa sebagai calon ilmuan wajib menguasai tata cara menyusun karya ilmiah. Ini tidak terbatas pada teknik, tetapi juga praktik penulisannya. Kaum intelektual jangan hanya pintar bicara (retorika) dan “menyanyi” saja, tetapi juga harus gemar dan pintar menulis.

Istilah karya ilmiah di sini adalah mengacu kepada karya tulis yang penyusunan dan penyajiannya didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Dilihat dari panjang pendeknya atau kedalaman uraian, karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper) dan laporan penelitian. Dalam penulisan, baik makalah maupun laporan penelitian, didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Penyusunan dan penyajian karya semacam itu didahului oleh studi pustaka dan studi lapangan (Azwardi, 2008:111).

Finoza dalam Alamsyah (2008:98) mengklasifikasikan karangan menurut bobot isinya atas 3 jenis, yaitu: (1) karangan ilmiah; (2) karangan semi ilmiah atau ilmiah popular dan; (3) karangan non ilmiah. Yang tergolong ke dalam karangan ilmiah antara lain makalah; laporan; skripsi; tesis; disertasi. Yang tergolong karangan semi ilmiah antara lain adalah artikel; editorial; opini; feuture; reportase; yang tergolong dalam karangan non ilmiah antara lain anekdot; dongeng; hikayat; cerpen; novel; roman; dan naskah drama.


Ketiga jenis karangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa. Sedangkan karangan non ilmiah adalah karangan yang tidak terikat pada karangan baku; sedangkan karangan semi ilmiah berada diantara keduanya. Sementara itu, Yamilah dan Samsoerizal (1994:90) memaparkan bahwa ragam karya ilmiah terdiri atas beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Menurut pengelompokan itu, dikenal ragam karya ilmiah seperti; makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.

Sikap Ilmiah

Ada tujuh sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh setiap penulis atau peneliti berdasarkan pendapat Istarani (2009:4) yaitu: sikap ingin tahu; sikap kritis; sikap terbuka; sikap objektif; sikap menghargai karya orang lain; sikap berani mempertahankan kebenaran; dan sikap menjangkau ke depan.


Ciri-Ciri Karya Ilmiah
Karangan ilmiah adalah karangan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan melalui bahasa tulis yang formal dengan sistematis-methodis. Karangan ilmiah bersifat sistematis dan tidak emosional. Dalam karya ilmiah disajikan kebenaran fakta. Ciri-ciri karya ilmiah menurut Alamsyah (2008:99) adalah sebagai berikut:
1)   merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif  Artinya, faktanya sesuai dengan yang diteliti,
2)   bersifat methodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode tertentu dengan langkah langkah yang teratur dan terkontrol secara tertip dan rapi,
3)   tulisan ilmiah menggunakan laras ilmiah. Artinya, laras bahasa ilmiah harus baku dan formal. Selain itu laras ilmiah harus lugas agar tidak ambigu (ganda).

Manfaat Penulisan Karya Ilmiah

Ada beberapa manfaat penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut:

1)   Penulis akan terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif, karena sebelum menulis karya ilmiah, penulis harus membaca dulu;
2)   Penulis akan terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber dan mengembangkan ke tingkat pemikiran yang lebih matang;
3)   Penulis akan terasa akrab dengan kegiatan perpustakaan, seperti bahan bacaan dalam katalog pengarang atau katalog judul buku;
4)   Penulis akan dapat meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis;
5)   Penulis akan memperoleh kepuasan intelektual, dan;
6)   Penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat (Istarani, 2009:5).
                               
Selain itu, dengan karya ilmiah penulis juga telah ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) melalui karya tulis yang dihasilkannya. Dengan demikian para penulis dan peneliti telah memberikan royalti (masukan) yang berguna bagi pengembangan iptek itu sendiri. Sehingga karya ilmiah tersebut dapat dibaca dan bermanfaat bagi para mahasiswa, intelektual, pendidik (guru dan dosen), dan bagi masyarakat umum.

Prinsip-Prinsip Penulisan Karya Ilmiah
Prinsip-prinsip umum yang mendasari penulisan sebuah karya ilmiah adalah:
1)   Objektif, artinya setiap pernyataan ilmiah dalam karyanya harus didasarkan kepada data dan fakta. Kegiatan ini disebut studi empiris. Objektif dan empiris merupakan dua hal yang bertautan;
2)   Prosedur atau penyimpulan penemuannya melalui penalaran induktif dan deduktif;
3)   Rasio dalam pembahasan data. Seorang penulis karya ilmiah dalam menganalisis data harus menggunakan pengalaman dan pikiran secara logis.

Tema Karya Ilmiah

Dalam menulis karya ilmiah, penulis hendaklah mengangkat tema-tema yang aktual dan bukan suatu tema yang sudah basi dan kusam. Sehingga karya tulis yang dihasilkan lebih berbobot dan mendapat sambutan yang baik dari pembaca. Sebagian penulis kadang kala mengangkat tema yang kurang penting yang hanya menjadi sebuah tulisan yang mubazir. Selain itu, ada sebagian penulis ilmiah hanya bertindak sebagai seorang penulis plagiator atau diistilahkan dengan penulis “ceplakan atau sarjana foto kopi, julukan bagi mahasiswa yang skripsinya diupahkan pada tukang buat skripsi”.

Mengenai tema Walija (1996:19-20) memaparkan bahwa kata ‘tema’ diserap dari bahasa Inggris theme yang berarti ‘pokok pikiran’. Kata theme itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, tithenai, yang berarti; meletakkan atau menempatkan. Tema sebuah karangan merupakan ide dasar atau ide pokok sebuah tulisan. Biasanya tema tidak dapat dilihat dengan kasat mata dalam sebuah karangan, karena bukan terdapat dalam sebuah kalimat yang utuh, tetapi tema merupakan cerminan dari keseluruhan isi karangan dari awal sampai akhir. Tema merupakan amanat atau pesan-pesan yang dapat dipetik dari karangan. Rumusan dari simpulan yang berupa pesan-pesan pengarang itulah yang disebut tema.


Sebuah tema yang baik adalah harus menarik perhatian penulis sendiri. Apabila penulis senang dengan pokok pembicaraan yang ingin dikarang tentu seorang pengarang dalam keadaan senang atau tidak dalam keadaan terpaksa. Selain menarik perhatian, tema yang hendak ditulis terpahami dengan baik oleh penulis. Selain tema dalam setiap tulisan ilmiah juga harus memiliki topik. Ada sebagian orang menyamakan antara topik dengan tema. Ternyata pendapat itu keliru. Topik adalah pokok pembicaraan yang ingin disampaikan dalam karangan.
Rambu-rambu yang harus diketahui dan dipahami oleh seorang penulis untuk menentukan dan memilih topik yang baik adalah sebagai berikut:
1)   Topik sebaiknya actual;
2)   Topik sebaiknya berasal dari dunia atau bidang kehidupan yang akrab dengan penulis;
3)   Topik sebaiknya memiliki nilai tambah atau memiliki arti yang penting, baik bagi penulis sendiri atau bagi orang lain;
4)   Topik sebaiknya selaras dengan tujuan pengarang dan selaras dengan calon pembaca;
5)   Topik sebaiknya asli, bukan pengulangan atas hal yang sama yang pernah disajikan oleh orang lain;
6)   Topik sebaiknya tidak menyulitkan pencarian data, bahan, dan informasi lain yang diperlukan.


Tahapan Umum Penulisan Karya Ilmiah

Tahap persiapan mencakup kegiatan menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam penelitian. Masalah yang ditemukan itu didukung oleh latar belakang, identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah. Langkah berikutnya mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoritis.

Langkah selanjutnya adalah mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian yang akan dilakukan. Metodelogi dalam tahap persiapan penulisan karya ilmiah juga diperlukan. Metodelogi mencakup berbagai teknik yang dilakukan dalam pengambilan data, teknik pengukuran, dan teknik analisis data. Kemudian tahap penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai. Terakhir adalah tahap penyuntingan dilakukan setelah proses penulisan dianggap selesai.









Bahasa Karya Ilmiah

Bahasa memegang peranan penting dalam penulisan karya ilmiah. Oleh sebab itu pemahaman tentang diksi (pilihan kata atau seleksi kata, bahasa Inggris; diction), istilah, kalimat, penyusunan paragraf, dan penalaran yang diungkapkan harus dikuasai peneliti. Selain itu, penulisan karya ilmiah harus mengacu pada Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan sesuai dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Dengan demikian, gaya penulisan karya ilmiah hendaknya memiliki kejelasan, reproduktif, dan impersonal.

Disisi lain, bahasa merupakan alat yang cukup penting dalam karangan ilmiah. Langkah pertama dalam menulis karya ilmiah yang baik adalah menggunakan tata bahasa yang benar (Suriasumantri, 1986:58). Apabila bahasa kurang cermat dipakai, karangan bukan saja sukar di pahami, melainkan juga mudah menimbulkan salah pengertian. Bahasa karangan yang kacau menggambarkan kekacauan pikiran penulis (Surakhmat dalam Finoza, 2006:215).

Dalam menulis karya ilmiah penulis juga diharapkan mampu menggunakan bahasa secara cermat. Sajikan ide-ide secara urut sehingga pokok-pokok pikiran dan konsep tersusun secara koheren. Gunakan ungkapan yang ekonomis sehingga tidak terjadi pengulangan ide atau penggunaan kata-kata yang berlebihan. Selain itu, gunakan ungkapan halus (smooth), agar pembaca dapat mengikuti alur pembahasan dengan mudah. Gaya kalimat jangan seperti puitis dan perhatikan penulisan secara benar dan baku.

Penggunaan Bahasa dalam Karya Ilmiah

Dalam penggunaan bahasa terdapat beberapa ragam bahasa. Sugono (1999:10) berpendapat bahwa berdasarkan pokok persoalan yang dibicarakan, ragam bahasa dapat dibedakan atas bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti ragam bahasa hukum, ragam bahasa niaga, ragam bahasa sastra, dan ragam bahasa jurnalistik.

Yamilah dan Samsoerizal (1994:10) mengklasifikasikan ragam bahasa dengan nama istilah ragam fungsioleg. Ragam fungsioleg adalah ragam berdasarkan sikap penutur mencakup daya ucap secara khas. Ragam ini digunakan antara lain dalam kegiatan: kesehatan, susastra, olahraga, jurnalistik, lingkungan, dan karya ilmiah. Setiap bidang tersebut menampakkan ciri tersendiri dalam pengungkapannya. Jadi dalam Alamsyah (2008:102) mengatakan bahwa bahasa ragam karya ilmiah memiliki karakteristik tersendiri yaitu : singkat, padat, sederhana, lugas, lancar, dan menarik.



Selain itu, gaya penulisan karya ilmiah hendaknya memiliki kejelasan, reproduktif, dan impersonal. Kejelasan dimaksudkan bahwa setiap karya ilmiah harus mampu menyampaikan informasi kepada pembaca tentang objek penelitiannya secara gamblang. Kegamblangan ini dibicarakan sebagai foto kopi dari aslinya. Inilah yang dimaksud dengan reproduktif. Sedangkan impersonal berarti peniadaan kata ganti perorangan seperti: saya atau peneliti. Misalnya: Adapun masalah yang akan diteliti mencakup, pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan penelitian. Pada posisi kata impersonal “diteliti” tidak boleh menggunakan kata saya atau peneliti.

Tertib Mengutip

Dalam tradisi mengarang ilmiah berlaku mengutip pendapat orang lain. Karya ilmiah pada umumnya merupakan hasil pengamatan atau penelitian yang merupakan lanjutan dari penelitian yang terdahulu. Dengan kata lain, hasil-hasil penelitian orang lain, pendapat ahli, baik yang dilisankan maupun yang dituliskan dapat digunakan sebagai rujukan untuk memperkuat uraian atau untuk membuktikan apa yang dibentangkan (Walija, 1996:125). Dalam dunia tulis menulis ilmiah ada dua macam jenis kutipan, yaitu: kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung dalam pengutipannya harus diberi tanda kutip (“… “). Sedangkan kutipan tidak langsung tidak diberikan tanda kutip. Namun, kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung dalam tertib mengutip harus diberikan tanda dengan catatan kaki (foot notes).

Catatan kaki adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan uraian (teks) yang ditulis di bagian bawah halaman yang sama. Apabila keterangan semacam ini disusun dibagian akhir karangan biasanya disebut keterangan saja. Catatan kaki bukan hanya untuk menunjukkan sumber kutipan, melainkan juga dipergunakan untuk memberikan keterangan tambahan terhadap uraian atau teks.
Ada beberapa prinsip mengutip, yaitu: (1) tidak mengadakan perubahan; (2) memberitahu bila sumber kutipan mengandung kesalahan; (3) memberitahu bila melakukan perbaikan dan (4) memberitahu bila menghilangkan bagian-bagian tertentu yang ada didalam kutipan.

Daftar Pustaka

Daftar pustaka merupakan daftar sejumlah buku acuan atau referensi yang menjadi bahan utama dalam suatu tulisan ilmiah. Selain buku, majalah, surat kabar, catatan harian, dan hasil pemikiran ilmuan juga dapat dijadikan sebagai referensi dalam menulis. Walija (1996:149) mengatakan bahwa daftar pustaka atau bibliografi adalah daftar buku atau sumber acuan lain yang mendasari atau menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan karangan. Unsur-unsur pada daftar pustaka hampir sama dengan catatan kaki. Perbedaannya hanya pada daftar pustaka tiada nomor halaman.




Unsur-unsur pokok daftar pustaka adalah sebagai berikut:
A. Buku sebagai Bahan Referensi
1)   Nama pengarang, diurutkan berdasarkan huruf abjad (alfabetis). Jika nama pengarang lebih dari dua penggal nama terakhir didahulukan atau dibalik.
2)   Tahun terbit buku, didahulukan tahun yang lebih awal jika buku dikarang oleh penulis yang sama.
3)   Judul buku, dimiringkan tulisannya atau digaris bawahi.
4)   Data publikasi, penerbit, dan tempat terbit.
5)   Daftar pustaka ditulis dengan huruf kapital semua dan menempati posisi paling atas pada halaman yang terpisah.

Contoh penulisan daftar pustaka buku sebagai referensi:

Ismail, Taufiq. 1993. Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Ananda.
Mulya, Hamdani. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Lhokseumawe: STAIN Malikussaleh.

Namun, jika bahan rujukan atau acuan dalam daftar pustaka yang bersumber dari internet ditulis sesuai dengan aturannya tersendiri berdasarkan pendapat Alamsyah (2008:119) sebagai berikut:

B. Rujukan dari Internet Berupa Artikel dari Jurnal

Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti oleh tahun, judul karya (dicetak miring) dengan diberikan keterangan dalam kurung (Online), volume dan nomor, dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.

Contoh:
Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), jilid 5, No 4, (http://www.malang.ac.id, diakses 20 Januari 2000).

C. Rujukan dari Internet Berupa E-mail Pribadi

Nama pengirim (jika ada) disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail pengirim), diikuti oleh tanggal, bulan, tahun, topik isi bahan (dicetak miring), nama yang dikirimi disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail yang dikirim).

Contoh: 1
Davis, A. (a.davis @uwts.edu.au). 10 Juni 1996. Learning to Use Web Authoring Tolls. Email kepada Alison Hunter (huntera @usq.edu.au).




Contoh: 2
Mulya, Hamdani. (mulyahamdani @yahoo.com). 15 Oktober 2009. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Email kepada Redaktur Majalah Santunan Jadid (redaksisantunan @gmail.com).

D. Rujukan dari Buku Yang Berisi Artikel (Ada Editornya)
          Cara menuliskannya sama dengan rujukan dari buku hanya ditambah dengan (ed.) jika hanya satu editor (eds.) dan jika lebih dari satu editor dan (ed.) atau (eds.) tersebut ditempatkan di antara nama pengarang dan tahun penerbitan.

Contoh: 3
Maurice, Catherine (eds.) 1996. Behavioral Intervention for Young Children with Autism: A manual for parent and professional. Austin, Texas: 8700 shoal creek Boulevard.

Subiyantoro (ed). 2003. Pengembangan Potensi Anak usia Dini. Semarang Rumah Indonesia

E. Rujukan dari Artikel Dalam Koran Atau Majalah
          Nama pengarang ditulis paling depan, diikuti tahun, tanggal, dan bulan. Judul artikel ditulis di antara tanda kutip, nama Koran atau majalah dicetak miring atau digarisbawahi per kata.

Contoh: 4
Hidayat, Dedy N. 2004. “Amerikanisasi Industri Kampanye Pemilu” dalam Kompas, Rabu, 11 Februari, (hlm,4)           

Hidayat, Dedy N. 2004. “Amerikanisasi Industri Kampanye Pemilu” dalam Kompas, Rabu, 11 Februari, (hlm,4)           


F. Rujukan dari Koran Tanpa Pengarang
          Nama Koran ditulis paling depan. Dicetak miring atau digarisbawahi, tahun diikuti tanggal dan bulan, kemudian judul artikel diapit tanda kutip dan nomor halaman.

Contoh: 5
Kompas. 2004, 11 Februari, “Makro-Ekonomi Mendekati 1997”. (hlm.25).

G. Rujukan Berupa TA, Skripsi, Tesis, atau Disertasi
          Penulis rujukan ini adalah nama penyusun, diikuti tahun, judul disertai pernyataan TA,skripsi, tesis, atau disertasi tidak diterbitkan, nama kota, nama fakultas serta nama perguruan tinggi

Contoh: 5
Asfuri, Ali. 2005. Analisis Kohesi Leksikal Pada Wacana Kolom Pabelan Pos. Skripsi tidak diterbitkan: Surakarta: FKIP Jurusan bahasa Indonesia UMS
Contoh Format Umum Karya Ilmiah
Dalam tulisan ini disajikan contoh format umum skripsi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Format karya ilmiah lazim juga disebut sebagai kerangka karya ilmiah.

KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
1.2 Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Sumber Data
1.5 Hipotesis
1.6 Manfaat Penelitian
1.7 Pentingnya Penelitian
1.8 Metode Penelitian
1.9 Teknik Penelitian

BAB II LANDASAN TEORITIS
2.1 Pengertian Cerpen
2.2 Pengertian Metafora Menurut Para Ahli
2.3 Metafora dalam Cerpen
2.4 Tipe Pelimpahan Metafora dalam Cerpen
2.5 Metafora sebagai Simbolis dalam Cerpen
2.6 Metafora sebagai Sarana Penceritaan dalam cerpen
2.7 Metafora sebagai Gaya dan Nada
2.8 Metafora sebagai Penggambaran Watak Tokoh

BAB III ANALISIS METAFORA DALAM CERPEN KARYA TAUFIQ ISMAIL
3.1 Pengolahan dan Analisis Data

BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan
4.2 Saran-Saran

DAFTAR PUSTAKA
TABEL
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BIOGRAFI PENULIS



BAHASA DALAM KARYA ILMIAH

BAHASA INDONESIA DALAM KARYA TULIS ILMIAH:
POKOK-POKOK PIKIRAN


Untuk mengawali tulisan, satu hal penting perlu dikemukakan, yakni kaidah “selingkung” dalam tatatulis ilmiah. Kaidah selingkung adalah aturan-aturan yang sifatnya berlaku dalam lingkungan tertentu, misalnya departemen satu berbeda dengan departemen lainnya, pemda satu berbeda dengan pemda lainnya, majalah satu berbeda dengan majalah lainnya, jurnal satu berbeda dengan jurnal lainnya. Dengan demikian, apabila kita menyusun karya tulis ilmiah, kita harus mengikuti aturan yang ada di lingkungan yang dimaksud.
Tulisan ini tidak membahas aturan dalam “selingkung” itu. Tulisan ini hanya memfokuskan pada aturan yang sifatnya berlaku untuk semua penulisan karya ilmiah.
Apa yang harus diperhatikan dalam menggunaan bahasa Indonesia (BI) untuk karya tulis ilmiah? Banyak hal yang harus dikuasai oleh seorang penulis karya ilmiah. Berikut dikemukakan beberapa hal yang harus diperhatilkan.

PERTAMA, BI YANG DIGUNAKAN ADALAH BI RAGAM TULIS. Ragam ini mengharuskan penggunaan kata yang utuh, terutama kata yang mengandung afiksasi atau pengimbuhan.

SESUAI
TIDAK SESUAI
·        Bekerja
·        kerja
·        menjual
·        jual
·        tidak
·        nggak atau tak
·        bukan
·        ‘kan
·        Memang
·        emang

Dalam ragam tulisan peranan tanda baca atau pungtuasi menjadi sangat penting. Perhatikan kalimat (1) dan (2) berikut!
(1)  Peninggalan Kerajaan Majapahit, yang ada di Probolinggo, sekarang sudah rusak parah.
(2)  Peninggalan Kerajaan Majapahit yang ada di Probolinggo sekarang sudah rusak parah.
(3)  Istri Pak Zaini, yang ada di Blitar, sedang bekerja.—yang ada di Blitar itu satu-satunya
(4)  Istri Pak Zaini yang ada di Blitar sedang bekerja. (yang ada di Malang ikut PLPG, yang ada di Tulungagung sedang ....3 bulan)
(5)  Feed-back ‘balikan’

Dalam kalimat (1), anak kalimat yang ada di Probolinggo, yang ditulis di antara dua tanda koma, hanyalah merupakan keterangan tambahan dan tidak membatasi frasa peninggalan Kerajaan Mahapahit. Sebaliknya, pada kalimat (2) anak kalimat yang sama membatasi pengertian peninggalan Kerajaan Mahapahit.

Implikasinya dari perbedaan ini ialah bahwa dalam kalimat (1) Kerajaan Majapahit hanya mempunyai satu-satunya peninggalan sejarah dan peninggalan itu ada di Probolinggo, sedangkan pada kalimat (2) Kerajaan Majapahit mempunyai lebih dari satu peninggalan sejarah dan salah satu di antara peninggalan itu ada di Probolinggo. Perbedaan yang dalam bahasa lisan dinyatakan dengan menurunkan intonasi pada (1) di atas dalam bahasa tulis harus diungkapkan dengan jelas sehingga tidak akan timbul salah mengerti.



KEDUA, BI YANG DIGUNAKAN ADALAH BI YANG FORMAL. Formal artinya resmi. Bentuk formal berlawanan dengan bentuk yang kolokial atau bahasa sehari-hari. Bentuk formal digunakan dalam situasi berbahasa yang formal, misalnya dalam penulisan karya ilmiah. Berikut contoh kata-kata formal dan tidak formal.
FORMAL
TIDAK FORMAL
·        daripada
·        ketimbang
·        hanya
·        cuma
·        berkata
·        bilang
·        membuat
·        bikin
·        bagi
·        buat/pro/teruntuk
·        memberi
·        kasih

Berikut contoh bentukan kata yang formal dan tidak formal.
FORMAL
TIDAK FORMAL
·        mencuci
·        nyuci
·        ditemukan
·        diketemukan
·        legalisasi
·        legalisir
·        lokalisasi
·        lokalisir
·        realisasi
·        realisir
·        terbentur
·        kebentur
·        tertabrak
·        ketabrak
·        pergelaran
·        pagelaran
·        metode
·        metoda
·        mengubah
·        merubah/merobah/mengobah

KETIGA, BAHASA ILMIAH BERTOLAK DARI GAGASAN. Itu berarti, penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan. Pilihan kalimatnya lebih cocok kalimat pasif.
ORIENTASI GAGASAN
ORIENTASI PENULIS
·        Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.
·        Dari uraian tadi penulis dapat menyimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.
·        Perlu diketahui bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam penanaman moral Pancasila
·        Kita tahu bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam penanaman moral Pancasila.
Peneliti mengemukakan x
Dikemukakan oleh peneliti
Kalimat aktif yang berorientasi pada gagasan dapat digunakan seperti contoh (3) dan (4) berikut.
(3)  Badudu (1985) menyatakan bahwa bahasa ilmiah merupakan suatu laras (register) bahasa yang khusus yang memiliki coraknya sendiri.
(4)  Perkembangan perekonomian Indonesia pascareformasi berjalan sangat lambat.





KEEMPAT, BAHASA ILMIAH BERSIFAT OBJEKTIF. Syarat ini terkait dengan ciri ketiga. Dengan menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak, sifat objektif akan terwujud.
OBJEKTIF
SUBJEKTIF
·  Contoh-contoh di atas telah memberikan bukti besar peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
·  Contoh-contoh di atas telah memberikan bukti betapa besarnya peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
·  Dari paparan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.
·  Dari paparan tersebut kiranya dapat disimpulkan sebagai berikut.

KELIMA, BI YANG DIGUNAKAN ADALAH BAHASA YANG LUGAS. Lugas artinya ‘apa adanya’. Bahasa lugas membentuk ketunggalan arti. Dengan bahasa yang bermakna apa adanya, salah tafsir dan salah paham terhadap paparan ilmiah dapat dihindarkan. Dalam kalimat (5) ditemukan keambiguan (kemaknagandaan) karena keterangan “yang muda” dapat menerangkan hanya “wanita” atau “pria dan wanita”.
(5)  Pria dan wanita yang muda harus ikut serta.
Kalau prianya tidak harus muda maka kalimat (6) berikut akan lebih jelas.
(6) Wanita yang muda dan pria harus ikut serta.

KEENAM, KALIMAT YANG DIGUNAKAN DALAM KARYA ILMIAH ADALAH KALIMAT HEMAT. Kalimat hemat menghindari penggunaan kata yang berlebihan. Berikut ditampilkan kalimat hemat dan tidak hemat.
HEMAT
TIDAK HEMAT
·        Nilai etis tersebut menjadi pedoman hidup bagi setiap warga negara Indonesia.
·        Nilai etis tersebut di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup bagi setiap warganegara Indonesia.
·        Pendidikan agama di sekolah dasar tidak akan terlaksana dengan baik tanpa dukungan dari orang tua.
·        Pendidikan agama di sekolah dasar tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan dari orang tua dalam keluarga.
·        Obahorok dengan iklhas menerima dan menghisap cerutu pemberian kepala suku yang lebih besar, Presiden RI.
·        Obahorok dengan ikhlas menerima dan menghisap rokok cerutu pemberian kepala suku yang lebih besar, Presiden RI.


KETUJUH, KALIMAT YANG DIGUNAKAN ADALAH KALIMAT LENGKAP. Kalimat lengkap adalah kalimat yang unsur-unsur wajibnya hadir dalam kalimat itu, khususnya subjek dan predikat. Berikut ditampilkan contoh kalimat lengkap dan tidak lengkap.
LENGKAP
TIDAK LENGKAP
·        Pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara subjek didik dengan pendidik.
·        Di dalam pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara subjek didik dengan pendidik.
·        Kenakalan anak-anak yang kadang-kadang merupakan perbuatan kriminal memerlukan perhatian yang cukup serius dari alat-alat negara.
·        Dengan kenakalan anak-anak yang kadang-kadang merupakan perbuatan kriminal memerlukan perhatian yang cukup serius dari alat-alat negara.
·        Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan kata kerja karena perubahan kala dan persona.
·        Di dalam bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan kata kerja karena perubahan kala dan persona.
·        Di dalam bahasa Indonesia tidak dikenal perubahan kata kerja karena perubahan kala dan persona.

KEDELAPAN, BAHASA DALAM KARYA TULIS BERSIFAT KONSISTEN. Konsisten artinya ‘taat asas’ atau ajeg. Sekali sebuah unsur bahasa, tanda baca, dan tanda-tanda lain, serta istilah digunakan sesuai dengan kaidah, itu semua selanjutna digunakan secara konsisten. Sebagai contoh, apabila pada bagian awal uraian terdapat singkatan SMP (Sekolah Menengah Pertama), pada uraian selanjutnya digunakan singkatan SMP, bukan SLTP. Kalimat (7) adalah tidak konsisten, sedangkan kalimat (8) adalah konsisten.
(7)  Perlucutan senjata di wilayah Libanon Selatan itu tidak penting bagi pejuang Hisbullah. Untuk mereka, yang penting adalah pencabutan embargo persenjataan.
(8)  Perlucutan senjata di wilayah Libanon Selatan itu tidak penting bagi pejuang Hisbullah. Bagi mereka, yang penting adalah pencabutan embargo persenjataan.
Merujuk pada pandangan Suparno (1988) kata tugas “untuk” digunakan untuk mengantarkan tujuan dan kata tugas “bagi” digunakan untuk mengantarkan objek.
Papaparan di atas hanyalah sebagian hal yang harus dipahami oleh seorang penulis karya ilmiah. Masih banyak aspek lain yang harus dikuasai oleh penulis, seperti (1) cara merujuk atau mengutip dari pelbagai sumber, (2) cara menuliskan daftar rujukan dan atau daftar pustaka, (3) cara menulis abstrak, (4) cara merumuskan masalah dan tujuan, (5) cara menjabarkan isi, (6) cara menyusun simpulan, dan sebagainya.
Perlu dipahami bahwa penguasaan berbagai-bagai kaidah penulisan, termasuk di dalamnya penggunaan bahasa, tidak langsung jadi begitu saja. Para penulis memerlukan proses yang panjang untuk menguasainya. Bagi peserta seminar ini, menurut saya, haruslah menerapkan motto 3M1—membaca, membaca, membaca—dan 3M2—menulis, menulis, menulis. Tanpa aktivitas membaca, pengetahuan kita akan kering sehingga bekal untuk menulis pun sangat minim. Demikian juga, menulis perlu dibiasakan dan dilatihkan. Tanpa pembiasaan dan pelatihan yang intensif, kemampuan menulis kita sulit dikembangkan.